VIIA. Klasifikasi Makhluk Hidup
(KELAS VII) Bab 5 Klasifikasi Makhluk Hidup
Judul :
Klasifikasi Makhluk Hidup
MATA PELAJARAN : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA
KELAS : VII
GURU MATA PELAJARAN
: Anita Wulandari, S.Pd
WAKTU PEMBELAJARAN : 6 Januari 2026
Pertemuan : 1
Subbab : Mengapa Makhluk Hidup Dikelompokkan?
Tujuan :
• Menganalisis teknik
pengelompokan makhluk hidup.
• Membuat kunci klasiikasi
untuk mengidentiikasi makhluk hidup di sekitar sekolah.
Materi
Tuhan yang Maha Esa menciptakan makhluk hidup dan
benda tak hidup di muka bumi ini. Untuk megetahui perbedaan antara makhluk
hidup dengan benda tak hidup, dapat kita lihat dari ciri-ciri makhluk hidup,
yaitu: bergerak, makan, peka terhadap ransangan, bernafas, tumbuh, mengeluarkan
zat sisa (ekskresi, berkembang biak, dan beradaptasi. Makhluk hidup di alam
sangat beragam. Selain beraneka ragam, dalam satu jenis makhluk hidup juga
terdapat variasi. Misalnya, terdapat beberapa jenis kucing, variasi warna bunga
mawar. Pada konteks pembelajaran IPA, proses pengelompokan sangat perlu
dilakukan terutama dalam pengelompokan makhluk hidup, sehingga mempermudah kita
untuk mengenal dan mempelajari keanekaragaman makhluk hidup yang ada di
permukaan bumi ini. Pengelompokan makhluk hidup menjadi golongan-golongan
dinamakan klasifikasi makhluk hidup. Klasifikasi makhluk hidup adalah
suatu cara mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan kesamaan ciri yang
dimiliki.
A. Tujuan Klasifikasi Makhluk Hidup
Tujuan mengklasifikasikan makhluk hidup adalah
untuk mempermudah mengenali, membandingkan, dan mempelajari makhluk hidup.
Tujuan khusus/lain klasifikasi makhluk hidup adalah
sebagai berikut:
1.
Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaaan dan perbedaan ciri-ciri
yang dimiliki.
2. Mendeskrpsikan ciri-ciri suatu jenis makhluk
hidup untuk membedakannya dengan makhuk hidup dari jenis yang lain.
3.
Mengetahui hubungan kekerabatan antar makhluk hidup
4.
Memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya.
Klasifikasi memungkinkan kita untuk lebih memahami
kehidupan di dunia dengan membantu kita untuk: a) mengidentifikasi makhluk
hidup, b) memahami sejarah makhluk hidup di dunia, c) menunjukkan kemiripan dan
perbedaan antara makhluk hidup, d) mengomunikasikan secara tepat, akurat
dan lebih mudah. Dasar-dasar klasifikasi makhluk hidup, dapat
berdasarkan:
1.
Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan yang dimilikinya
2.
Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan ciri bentuk tubuh (morfologi) dan alat
dalam tubuh
(anatomi)
3.
Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan manfaat, ukuran, tempat hidup, dan cara
hidupnya.
Tahapan klasifikasi Untuk
mengklasifikasikan makhluk hidup harus melalui serangkaian tahapan. Tahapan
tersebut antara lain sebagai berikut.
Klasifikasi Makhluk Hidup
1. Pengamatan sifat makhluk
hidup Pengamatan merupakan proses awal klasifikasi, yang dilakukan dalam proses
ini adalah melakukan identifikasi makhluk hidup satu dengan makhluk hidup yang
lainnya. Mengamati dan mengelompokkan berdasarkan tingkah laku, bentuk
morfologi, anatomi, dan fisiologi.
2. Pengelompokkan makhluk
hidup berdasarkan pada ciri yang diamati Hasil pengamatan kemudian diteruskan
ke tingkat pengelompokkan makhluk hidup. Dasar pengelompokkannya adalah ciri
dan sifat atau persamaan dan perbedaan makhluk hidup yang diamati.
3. Pemberian nama makhluk hidup
Pemberian nama makhluk hidup merupakan hal yang penting dalam klasifikasi. Ada
berbagai sistem penamaan makhluk hidup, antara lain pemberian nama dengan
sistem tata nama ganda (Binomial Nomenclature) dan trinomial. Dengan adanya
nama makhluk hidup maka ciri dan sifat makhluk hidup akan lebih mudah dipahami.
C. Sistem Klasifikasi Makhluk
Hidup Berdasarkan kriteria yang digunakan,
sistem klasifikasi makhluk hidup dibedakan menjadi tiga, yaitu sistem buatan
(artifisial), sistem alami (natural), dan sistem filogenik.
1. Sistem Klasifikasi Buatan
(Artifisial) Sistem klasifikasi buatan mengutamakan tujuan praktis dalam
ikhtisar dunia makhluk hidup. Dasar klasifikasi adalah ciri morfologi, alat
reproduksi, habitat dan penampakan makhluk hidup (bentuk dan ukurannya).
Misalnya, pada klasifikasi tumbuhan ada pohon, semak, perdu, dan gulma.
Berdasarkan tempat hidup, dapat dikelompokkan hewan yang hidup di air dan hewan
yang hidup di darat. Berdasarkan kegunaannya, misalnya makhluk hidup yang
digunakan sebagai bahan pangan, sandang, papan dan obat-obatan.
2. Sistem Klasifikasi
Alami (Natural) Klasifikasi makhluk hidup yang menggunakan sistem alami
menghendaki terbentuknya takson yang alami. Pengelompokkan pada sistem ini
dilakukan berdasarkan pada karakter[1]karakter alamiah yang mudah untuk
diamati, pada umumnya berdasarkan karakter morfologi, sehingga terbentuk takson-takson
yang alami, misalnya hewan berkaki empat, hewan bersirip, hewan tidak berkaki,
dan sebagainya. Pada tumbuhan misalnya tumbuhan berdaun menyirip, tumbuhan
berdaun seperti pita, dan sebagainya.
3. Sistem Klasifikasi Filogenik
Sistem klasifikasi filogenik merupakan suatu cara pengelompokkan organisme
berdasarkan garis evolusinya atau sifat perkembangan genetik organisme sejak
sel pertama hingga menjadi bentuk organisme dewasa. Sistem klasifikasi ini
sangat dipengaruhi oleh perkembangan teori evolusi. Teori ini diperkenalkan
oleh Charles Darwin (1859). Sistem klasifikasi filogeni ini merupakan sistem
klasifikasi yang mendasari sistem klasifikasi modern, yang dipelopori oleh
Hudchinson, Cronquist, dan lainnya. Makin dekat hubungan kekerabatan, maka makin
banyak persamaan morfologi dan anatomi antar takson. Semakin sedikit persamaan
maka makin besar perbedaannya, berarti makin jauh hubungan kekerabatannya.
Misalnya, orang utan lebih dekat kekerabatannya dengan monyet dibandingkan
dengan manusia. Hal itu didasarkan pada tes biokimia setelah ilmu pengetahuan
berkembang pesat, terutama ilmu pengetahuan tentang kromosom, DNA, dan susunan
protein organisme.
D. Sistem Tata Nama Ganda
(Binomial Nomenclature)
Sebelum digunakan nama baku yang
diakui dalam dunia ilmu pengetahuan, makhluk hidup diberi nama sesuai dengan
nama daerah masing-masing, sehingga terjadi lebih dari satu nama untuk menyebut
satu makhluk hidup. Misalnya, mangga ada yang menyebut taipa (di daerah
Makassar), ada yang menyebut pao (daerah Bugis), dan ada pula yang menyebut
pelem (daerah jawa). Nama pisang, di daerah jawa tengah disebut dengan gedang,
sedangkan di daerah Sunda gedang berarti pepaya. Karena adanya perbedaan
penyebutan ini maka akan mengakibatkan salah pengertian sehingga informasi
tidak tersampaikan dengan tepat atau pun informasi tidak dapat tersebar luas ke
daerah-daerah lain atau pun negara lain.
Carolus Linnaeus (1707-1778) adalah seorang ilmuwan Swedia yang meneliti
tentang tata cara penamaan dan identifikasi organisme (Systema Naturae) yang
menjadi dasar taksonomi modern. Untuk menyebut nama makhluk hidup, C. Linneaus
menggunakan sistem tata nama ganda, yang aturannya sebagai berikut:
1. Nama spesies terdiri atas dua
kata. Kata pertama adalah nama genus dan kata kedua adalah penunjuk spesies.
2. Kata pertama diawali dengan
huruf besar dan kata kedua dengan huruf kecil.
3. Menggunakan bahasa Latin atau
ilmiah atau bahasa yang dilatinkan, yaitu dengan dicetak miring atau
digarisbawahi secara terpisah untuk nama genus dan nama spesiesnya. Contoh:
Nama ilmiah jagung adalah Zea mays atau dapat pula ditulis Zea mays.
Hal ini menunjukkan nama genus = Zea dan nama petunjuk spesies = mays.
E. Pengklasifikasian Makhluk
Hidup
Pada awalnya dalam klasifikasi,
makhluk hidup dikelompokkan dalam kelompok[1]kelompok berdasarkan persamaan
ciri yang dimiliki. Kelompok- kelompok tersebut dapat didasarkan pada ukuran
besar hingga kecil dari segi jumlah anggota kelompoknya. Namun,
kelompok-kelompok tersebut disusun berdasarkan persamaan dan perbedaan. Urutan
kelompok ini disebut takson atau taksonomi. Kata taksonomi sendiri berasal dari
bahasa Yunani, yaitu taxis (susunan, penyusunan, penataan) atau taxon
(setiap unit yang digunakan dalam klasifikasi objek biologi) dan nomos (hukum).
Menurut Carolus Lennaeus, tingkatan
takson diperlukan untuk pengklasifikasian, yang berurutan dari tingkatan tinggi
yang umum menuju yang lebih spesifisik di tingkatan yang terendah.
Urutan hierarkinya yaitu :
· Kingdom (Kerajaan)
· Phylum (Filum) untuk
hewan / Divisio (Divisi) untuk tumbuhan
· Classis (Kelas)
· Ordo (Bangsa)
· Familia (Keluarga)
· Genus (Marga)
· Spesies (Jenis)
Dari tingkatan di atas, bisa disimpulkan jika dari spesies menuju kingdom, maka takson semakin tinggi. Selain itu jika takson semakin tinggi, maka jumlah organisme akan semakin banyak, persamaan antar organisme akan makin sedikit sedangkan perbedaanya akan semakin banyak. Sebaliknya, dari kingdom menuju spesies, maka takson semakin rendah. Dan jika takson semakin rendah, maka jumlah organisme akan semakin sedikit, persamaan antar organisme akan makin banyak sedangkan perbedaanya akan semakin sedikit.
Untuk lebih jelasnya, mari anak-anak sholeh dan
sholeha menyimak video dibawah ini:
Tugas
Jawablah pertanyaan dibawah
ini:
(1) Apa yang membedakan
makhluk hidup dengan benda mati?
(2) Mengapa para ahli
cenderung menyatakan bahwa virus tidak
termasuk ke dalam makhluk
hidup?
(3) Berikanlah alasan bahwa
padi termasuk ke dalam makhluk hidup.
(4) Robot dapat bergerak dan
merespon manusia. Apakah robot
termasuk ke dalam makhluk
hidup? Berikanlah alasannya.
Untuk evaluasi hari ini:
1. Silahkan
kalian pahami materi dan video di atas
2. Kerjakan
4 pertanyaan diatas
3. Silahkan
komen diBlogger sebagai daftar hadir, dan jangan lupa
dikumpulkan tugasnya
Terimakasih, tetap semangat nak dan jangan lupa sholat 5 waktu
Wassalamualaikum, Wr. Wb
Komentar
Posting Komentar